Oleh: Anwar, S.Ag, M.A.P
Mewujudkan Bireuen sebagai Kota Santri adalah mimpi besar yang penuh harapan, tetapi juga penuh rintangan. Warisan dayah yang kaya, semangat masyarakat dan nilai-nilai santri memang menjadi modal kuat, tetapi ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dengan mata terbuka dan langkah tegas.
Tantangan ini bukan sekadar hambatan, tetapi juga peluang untuk membuktikan bahwa Bireuen bisa bangkit dan menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Salah satu rintangan terbesar adalah kondisi infrastruktur pendidikan Islam di Bireuen yang masih timpang. Banyak dayah beroperasi dengan fasilitas minim, bangunan tua yang bocor, kekurangan air bersih atau tanpa akses listrik yang memadai. Tsunami 2004 dan konflik masa lalu meninggalkan bekas yang dalam, menghancurkan banyak dayah dan memperlambat pembangunan kembali.
Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi masalah. Guru atau teungku yang qualified sering kali kekurangan pelatihan modern, sementara jumlah mereka tidak sebanding dengan ribuan santri yang membutuhkan bimbingan. Tanpa fasilitas dan tenaga pendidik yang memadai, sulit membayangkan dayah sebagai jantung Kota Santri yang berdetak kencang.
Di sisi lain Era digital membawa tantangan baru, pergeseran minat generasi muda. Banyak anak muda Bireuen kini lebih tertarik pada gadget, media sosial, atau peluang kerja di kota ketimbang belajar di dayah. Tradisi menghafal Al-Qur’an atau mengaji kitab kuning sering dianggap kuno dibandingkan dengan keterampilan teknologi atau bahasa asing yang menjanjikan gaji tinggi.
Modernisasi ini bukan hanya ancaman, tetapi juga ujian: bagaimana membuat pendidikan santri tetap relevan dan menarik di mata generasi milenial dan Gen Z? Jika dayah gagal menjawab kebutuhan zaman, Kota Santri bisa kehilangan energi mudanya.
Disamping itu, banyak dayah di Bireuen bergantung pada sumbangan masyarakat atau dana terbatas dari pemerintah, yang sering kali tidak cukup untuk operasional, apalagi pengembangan. Santri dari keluarga miskin kerap kesulitan melanjutkan pendidikan karena biaya hidup atau ketidakmampuan orang tua mereka.
Di sisi lain, potensi ekonomi berbasis pesantren. seperti wirausaha santri atau pengelolaan wakaf belum tergarap maksimal. Tanpa kemandirian finansial, visi Kota Santri akan sulit lepas landas, terutama di tengah ketergantungan ekonomi Bireuen pada kabupaten lain.
Tantangan besar lainnya adalah kurangnya sinergi antara pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, ulama, dayah dan masyarakat sering berjalan sendiri-sendiri. Misalnya, program pendidikan pemerintah kadang tidak selaras dengan kebutuhan dayah, sementara ulama dan masyarakat lokal belum sepenuhnya dilibatkan dalam perencanaan pembangunan. Tanpa koordinasi yang kuat, upaya menuju Kota Santri bisa terpecah-belah, kehilangan arah, dan gagal mencapai dampak nyata.
Bireuen juga menghadapi tantangan alam. Posisi geografisnya yang berbatasan dengan laut dan perbukitan membuat kabupaten ini rawan banjir, longsor, dan gempa. Bencana seperti tsunami 2004 adalah pengingat bahwa pembangunan Kota Santri harus mempertimbangkan ketahanan lingkungan. Dayah-dayah di daerah pesisir sering terdampak banjir tahunan, mengganggu proses belajar dan menambah beban biaya perbaikan. Jika tidak ada strategi mitigasi, mimpi Kota Santri bisa terkubur oleh realitas alam yang tak terprediksi.
Tantangan-tantangan ini memang berat, tetapi bukan tak teratasi. Infrastruktur bisa diperbaiki dengan investasi cerdas, modernisasi bisa dijawab dengan inovasi pendidikan, ekonomi bisa diperkuat melalui kemandirian pesantren, sinergi bisa dibangun lewat kolaborasi, dan ancaman alam bisa dihadapi dengan perencanaan yang matang. Menjadikan Bireuen sebagai Kota Santri berarti menerima kenyataan ini sebagai ujian, bukan sebagai akhir perjalanan. Setiap rintangan adalah undangan untuk berpikir kreatif dan bekerja sama, mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
Bireuen tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini. Daerah lain seperti Jombang atau Gontor pernah berada di posisi serupa, dan mereka berhasil karena tekad untuk berubah. Tantangan adalah bagian dari proses dan di sinilah letak keindahan perjuangan menuju Kota Santri, sebuah perjalanan yang membutuhkan hati, pikiran dan tangan dari seluruh masyarakat Bireuen.
*Penulis adalah Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen